Hidup adalah Ibadah

lihat, pahami, resapi, tulis...

Minggu, 24 Februari 2013

Sepotong Pizza Untuk Nabila


 



Rabu (01/08). Memasuki ruangan belajar 10x3 meter di Yayasan  KUMPI ( Kumpulan Pengajian Islam) yang terletak di Jalan Pulo Wonokromo 149 Surabaya membuat perasaan kami tersentuh. 3 kipas angin dan 3 lampu neon merupakan fasilitas sederhana yang terdapat disana.
Sekitar 40 anak yatim begitu antusias menyambut kedatangan kami, wajah mereka sumringah disertai  riuh suara gelak tawa anak-anak berusia 4-16 tahun yang menggema memenuhi ruangan.
Kami yang tergabung dalam crew Pizza Hut Royal Plaza memang memiliki acara tahunan yaitu buka bersama anak-anak yatim piatu. Acara yang dimulai pukul 16.30 WIB berlangsung cukup meriah. Diawali dengan perkenalan oleh pembina Yayasan yang bercerita tentang keberadaan anak-anak yatim piatu di tempat itu. Lalu berlanjut dengan sambutan dari pihak manajemen Pizza Hut Royal Plaza. Acara semakin meriah saat kami mengadakan game kreativitas membuat berbagai bentuk hewan dari balon yang diajarkan oleh seluruh crew Pizza Hut Royal Plaza.
Tak terasa adzan maghrib sudah berkumandang, kamipun menghentikan acara sejenak lalu menikmati minuman dan snack yang telah disiapkan. Para anak-anak yatim tersebut tanpa dikomando bergantian mengambil air wudhu dan menunaikan sholat maghri bersama.
Usai menunaikan sholat maghrib, dilanjutkan dengan acara makan bersama. Terlihat wajah-wajah riang dan gembira saat menerima sepotong Pizza yang telah kami bagikan disertai santunan untuk masing-masing anak yatim piatu Yayasan KUMPI.
“Terimakasih banyak ya, Kak. Bulan ramadhan tahun depan datang lagi ya.” Ujar Nabila, gadis kelas 3 SD yang diamini oleh seluruh crew Pizza Hut Royal.
Semoga kehadiran kami membawa berkah dan memberi kesan positif di hati mereka. Berbagi bersama Pizza Hut Royal Plaza memang indah. [*]

Naskah ini dimuat di Koran Surya Rubrik Citizen Reporter tanggal 3 Agustus 2012 (http://surabaya.tribunnews.com/2012/08/03/sepotong-pizza-untuk-nabila#sthash.97S7y15I.ofXubZON.dpbs)

Ranny Setya Rizkita
Mahasiswi Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Surabaya
Ruang belajar itu hanya berukuran 10 meter kali tiga meter. Di dalamnya dilengkapi dengan tiga kipas angin dan tiga lampu neon sebagai penerang ruangan yang sudah dipenuhi sekitar 40 anak yatim piatu. Bocah yatim piatu yang dinaungi Yayasan Kumpulan Pengajian Islam (Kumpi) yang bermarkas di jalan Pulo Wonokromo 149 Surabaya. Memang sederhana dan jauh dari kesan memadai. - See more at: http://surabaya.tribunnews.com/2012/08/03/sepotong-pizza-untuk-nabila#sthash.97S7y15I.ofXubZON.dpuf
Ruang belajar itu hanya berukuran 10 meter kali tiga meter. Di dalamnya dilengkapi dengan tiga kipas angin dan tiga lampu neon sebagai penerang ruangan yang sudah dipenuhi sekitar 40 anak yatim piatu. Bocah yatim piatu yang dinaungi Yayasan Kumpulan Pengajian Islam (Kumpi) yang bermarkas di jalan Pulo Wonokromo 149 Surabaya. Memang sederhana dan jauh dari kesan memadai.

Saat rombongan kami memasuki ruangan pada Rabu (1/8) senja, sontak wajah anak-anak yatim piatu berusia antara empat tahun hingga 16 tahun itu terlihat berbinar. Suara riuh dan gelak tawa mereka menyusul memenuhi ruangan. Rasa haru memenuhi hati kami, awak Pizza Hut Royal Plaza yang memiliki acara tahunan buka bersama anak-anak yatim piatu. Tahun ini kami berkesempatan mampir di Yayasan Kumpi.

Sebelum acara buka bersama, kami sempat berkenalan sebagai pembuka acara. Pengurus yayasan berbagi cerita mengenai keberadaan anak-anak yatim piatu asuhan Kumpi dan dilanjutkan dengan perwakilan Pizza Hut. Acara kian meriah dengan ragam permainan kreativitas yang membuat jerit gembira mereka kian membahana. Tak terasa adzan maghrib bergema. Kami menghentikan acara kemudian bersama menikmati minuman dan snack yang telah disiapkan.

Dan tanpa dikomando, anak-anak yatim tersebut bergantian mengambil air wudhu dan menunaikan salat maghri berjamaah. Usai menunaikan salat maghrib, acara inti buka bersama pun dilaksanakan. Terlihat wajah-wajah riang dan gembira saat menerima sepotong pizza disertai santunan untuk masing-masing anak yatim piatu Yayasan Kumpi.

"Terimakasih banyak ya, Kak. Ramadan tahun depan datang lagi ya,” ujar Nabila, bocah kelas 3 SD yang diamini seluruh crew Pizza Hut Royal. Semoga kehadiran kami membawa berkah dan memberi kesan positif di hati mereka. Berbagi bersama Pizza Hut Royal Plaza memang indah. - See more at: http://surabaya.tribunnews.com/2012/08/03/sepotong-pizza-untuk-nabila#sthash.97S7y15I.dpuf
Ruang belajar itu hanya berukuran 10 meter kali tiga meter. Di dalamnya dilengkapi dengan tiga kipas angin dan tiga lampu neon sebagai penerang ruangan yang sudah dipenuhi sekitar 40 anak yatim piatu. Bocah yatim piatu yang dinaungi Yayasan Kumpulan Pengajian Islam (Kumpi) yang bermarkas di jalan Pulo Wonokromo 149 Surabaya. Memang sederhana dan jauh dari kesan memadai.

Saat rombongan kami memasuki ruangan pada Rabu (1/8) senja, sontak wajah anak-anak yatim piatu berusia antara empat tahun hingga 16 tahun itu terlihat berbinar. Suara riuh dan gelak tawa mereka menyusul memenuhi ruangan. Rasa haru memenuhi hati kami, awak Pizza Hut Royal Plaza yang memiliki acara tahunan buka bersama anak-anak yatim piatu. Tahun ini kami berkesempatan mampir di Yayasan Kumpi.

Sebelum acara buka bersama, kami sempat berkenalan sebagai pembuka acara. Pengurus yayasan berbagi cerita mengenai keberadaan anak-anak yatim piatu asuhan Kumpi dan dilanjutkan dengan perwakilan Pizza Hut. Acara kian meriah dengan ragam permainan kreativitas yang membuat jerit gembira mereka kian membahana. Tak terasa adzan maghrib bergema. Kami menghentikan acara kemudian bersama menikmati minuman dan snack yang telah disiapkan.

Dan tanpa dikomando, anak-anak yatim tersebut bergantian mengambil air wudhu dan menunaikan salat maghri berjamaah. Usai menunaikan salat maghrib, acara inti buka bersama pun dilaksanakan. Terlihat wajah-wajah riang dan gembira saat menerima sepotong pizza disertai santunan untuk masing-masing anak yatim piatu Yayasan Kumpi.

"Terimakasih banyak ya, Kak. Ramadan tahun depan datang lagi ya,” ujar Nabila, bocah kelas 3 SD yang diamini seluruh crew Pizza Hut Royal. Semoga kehadiran kami membawa berkah dan memberi kesan positif di hati mereka. Berbagi bersama Pizza Hut Royal Plaza memang indah. - See more at: http://surabaya.tribunnews.com/2012/08/03/sepotong-pizza-untuk-nabila#sthash.97S7y15I.dpuf

Pizza Maker Junior


Oleh Ranny Setya R 
(Naskah ini pernah dikirimkan di Koran Surya rubrik Citizen Reporter)

Sebanyak 40 anak turun dari angkot berwarna coklat, rombongan anak-anak itu mulai memasuki kawasan mall Royal Plaza Surabaya pukul 3 sore hari (20/11). Ya, mereka adalah anak-anak yatim piatu dari Panti Asuhan Mahbubiyah yang beralamat di Jalan Bentul I nomor 40. Mereka sengaja diundang oleh Pizza Hut Royal Plaza untuk menghadiri acara Pizza Maker Junior.
Pizza Maker Junior adalah acara yang dapat meningkatkan pengetahuan mereka mengenai tata cara pembuatan pizza dari awal hingga pizza matang. Terlihat wajah antusias dan bersemangat saat mereka mendengarkan arahan dari Pak Arman Wijaya selaku Manajer Pizza Hut Royal Plaza.
“Acara ini adalah acara tahunan untuk berbagi dengan anak-anak yatim piatu, melalui Pizza Maker Junior maka anak-anakpun juga senang karena bisa menikmati pizza hasil buatannya sendiri.” Ujar Pak Arman dengan senyumnya yang khas.
Selain bisa menikmati pizza hasil buatan sendiri, mereka juga mendapatkan es krim yang dihias sesuai keinginan mereka. Gelak tawa terdengar dari puluhan anak-anak yatim itu. Acara ditutup dengan pembagian balon, santunan, dan berfoto bersama para karyawan Pizza Hut Royal Plaza.(*)

Soto Kenangan

Oleh Ranny Setya R

(Naskah ini pernah dikirimkan di Tabloid Nyata dengan tema lomba "Love Story")



Semangkok soto di hadapanku aromanya begitu menggoda. Tetapi ada yang lebih merusak konsentrasi, lelaki pemilik senyum paling indah kini duduk di sampingku. Berdekatan dengannya dengan jarak yang tak lebih dari 30 cm membuat pipiku semakin merona.
“Ayo dimakan, katanya lapar,” ujarnya dengan senyum berbentuk bulan sabit yang membuat perutku mendadak kenyang.
            “Iya sih,” jawabku singkat, tersipu malu, berusaha menyembunyikan perasaan yang tak menentu.
            Kini aku mulai mengaduk-aduk nasi berkuah kuning panas dengan suwiran ayam di atasnya. Bukannya aku tak nafsu makan, namun ada perasaan gundah yang mendera hatiku.
“Ada apa, Sayang?” dia menoleh ke arahku. “Apa kuahnya terlalu panas?” tanyanya lagi.
Aku hanya menggeleng pelan. Menatap wajahnya sekilas, ah... mata sipit itu selalu memesona dan hampir saja aku terlena dibuatnya, aku mengalihkan pandangan lalu menyuapkan satu sendok soto ke mulutku.
            “A... a... aku takut...,” jawabku setelah suapan ke lima. Kini aku tak bisa lagi menyembunyikan perasaanku. Aku benar-benar takut kehilangannya.
            “Tak ada hal yang perlu kau takutkan, aku akan selalu ada di sini menjagamu,” ujarnya seakan bisa membaca kata hatiku, menyebalkan.
            “Justru itu aku takut kau akan meninggalkanku dan tak bisa menikmati soto bersamamu lagi.  Aku takut, Kak.” Nada bicaraku mulai meninggi. Ada serak harapan yang tersirat.
            “Hahaha....” Pria di sampingku kini tertawa. Astaga... aku menjadi semakin jengkel dibuatnya, mengapa dia masih bisa tertawa di kala hatiku mulai meragu akan kesetiaannya.
            Dia diam, lalu berkata. “Aku pasti akan meninggalkanmu,” hatiku tercekat, aku menoleh menatap wajahnya lekat. Semangkok soto kesukaanku pun sudah tak menarik lagi. Bening di mataku mulai meleleh, bermuara pada dagu yang akhirnya luruh satu per satu.
            “Saat aku meninggalkanmu nanti, janganlah kau tangisi aku tapi doakan saja, kau harus tetap hidup. Dunia kita sudah berbeda, tak bisa makan soto bersama lagi, maaf ...,” kalimat itu terlontar melalui bibir tipisnya, senyumnya masih terpancar di sana.
            Aku mencerna kalimatnya. Dunia yang berbeda? Tanyaku dalam hati.
            “Jaga dan besarkan anak-anak kita nanti dengan kasih sayang yang tulus kau beri. Doakan aku dalam setiap ibadahmu, maaf bila aku tak bisa membawamu bersamaku. Aku akan meninggalkanmu, namun bukan untuk saat ini. Entah kapan Allah akan mengambil nyawaku. Aku akan memanfaatkan sisa umur yang tersisa bersamamu.” Kata-kata itu terlontar dengan syahdu dari mulut mungilnya.
Ah... rupanya hanya mautlah yang memisahkan kita. Aku tersenyum menatap priaku, sungguh hatiku beruntung bisa menjadi tempat berlabuh akan segala kasih dan sayangnya. Semangkok soto ini adalah saksi bisu yang akan selalu ku kenang seumur hidupku J
Ranny Setya R, lahir di Surabaya, 08 Desember 1992. Mahasiswi Jurusan Pendidikan Ekonomi Akuntansi di Universitas Negeri Surabaya. Beberapa karyanya pernah dimuat di media cetak Surabaya. Antologinya yang sudah terbit yaitu Warna-Warni Kehidupan ( Hamasah, 2011), Unforgettable Moments (AG Publishing, 2012), Puisi Adalah Hidupku ( LeutikaPrio, 2012 ), Cermin Hati ( Universal Nikko, 2012 ). Penulis dapat dihubungi lewat akun FB: Ranny Setya R atau e-mail: ranny_setya@yahoo.com. Twitter: @Rhanniey

Film Habibie Ainun Tangiskan Penonton


                                        Film Habibie Ainun Tangiskan Penonton
(Naskah ini pernah dikirimkan di Koran Surya)
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/7/74/Habibie_Ainun_Poster.jpg/230px-Habibie_Ainun_Poster.jpg
Kamis, 20 – 12- 2012 adalah tanggal yang unik sekaligus tanggal premiere film Habibie & Ainun yang diadaptasi dari buku best seller yang ditulis oleh B. J Habibie ini. Film yang diperankan oleh Reza Rahardian sebagai B.J Habibie dan Bunga Citra Lestari sebagai Ainun memang menyedot perhatian masyarakat Indonesia.
Malam itu saya dan teman-teman berniat menonton Film ini di City Of Tomorrow Surabaya yang jam tayangnya pukul 19.30. Saya sampai di bioskop pukul 18.30 namun semua tiket sudah ludes, tinggal yang pukul 21.55 itupun tinggal 4 kursi dan terpecah ( tidak berdampingan ). Akhirnya saya dan teman-teman memutuskan untuk menonton di Surabaya Town Square, akhirnya kami mendapatkan tiket meski duduk di seat yang agak bawah.
Awal Film yang ber-setting tahun 60-an membuat penonton benar-benar merasakan suasana Indonesia pada masa Presiden Soeharto saat itu, aneka konflik yang diceritakan juga dirasakan memang terjadi pada masa itu. Namun pada saat 1,5 jam film diputar, terdengar isakan tangis dari penonton kanan kiri saya, lalu merambat satu studio dibuat menangis karenanya, isakan itu terdengar jelas, iseng iseng saya mendongak ke arah atas bangku penonton, ternyata memang banyak penonton yang meneteskan air mata saking terharunya.
Film ini menceritakan tentang kisah cinta Pak Habibie dan Ibu Ainun hingga akhir hayat Ibu Ainun, betapa pengorbanan, perhatian, kasih sayang, dan kesetiaan menjadi dasar dari rumah tangga mereka. Film ini juga mengajak penonton untuk mencintai negerinya, betapa karya anak bangsa sangat dibutuhkan untuk memajukan Indonesia. Untuk yang belum nonton, silahkan pergi ke bioskop dan datang lebih awal agar kebagian tiket, serta jangan lupa membawa tisu untuk menghapus tangis.

Oleh                : Ranny Setya Rizkita
Mahasiswi jurusan Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Surabaya.

Dia


Oleh Ranny Setya R

            Kuda besiku melaju berlawanan dengan arah angin, satu per satu rintik air luruh dari langit. Aku melirik jam tanganku, pukul 5 sore. Padahal jadwal keberangkatan kurang satu setengah jam lagi. Beberapa pengemudi di depanku mulai merapatkan kuda besinya, mengeluarkan jas hujan dari saku sang kuda dan memakainya. Lagi-lagi aku lupa membawa jas hujan, maka kubiarkan dingin menyentuhku, mengibarkan ujung jilbab biruku yang mulai basah oleh hujan.

            Sampai mana? Mas tunggu di peron stasiun. Hati-hati di jalan ya, Dek.


             Aku membaca pesan singkatnya, lalu kembali konsentrasi memacu kudaku lebih cepat lagi. Senja sudah di ambang mata, langit semakin gelap, aku takut bila terlambat menemuinya. Sedangkan beberapa barang yang dibutuhkannya ada di tasku saat ini. Ya Allah... permudahkanlah jalanku, jangan biarkan waktu membuat hadirku sia-sia. Yah...,hanya doa-lah yang bisa kupanjatkan di tengah perjalanan berkawan rintik hujan dan riuh angin.
             Rupanya Allah mendengar doaku, jalan-jalan mulai lenggang, bahkan aku tak mendapati lampu merah sekalipun, lampu hijau selalu membiarkan aku lewat di bawahnya. Padahal senja selalu identik dengan macet, terutama di kota metropolitan se-sumpek Surabaya. Alhamdulillah Ya Allah, tak lama kemudian aku pun sudah sampai di depan gerbang stasiun.
            “Parkir motor di sebelah mana ya, Pak?” aku bertanya pada pria paruh baya yang duduk di atas becaknya.
            “Ini masuk aja, Mbak.” Jawabnya singkat, sembari mengarahkan telunjuknya pada pagar putih sebatas pinggang.
            “Oh sebelah sana, ya? Makasih ya, Pak.”
             Segera saja ku bariskan kuda besiku di tempat yang teduh, kemudian berlari menemuinya. Berharap dia masih di sana, dan kereta sembrani belum membawanya. Dia, priaku. :)