Hidup adalah Ibadah

lihat, pahami, resapi, tulis...

Minggu, 24 Februari 2013

Soto Kenangan

Oleh Ranny Setya R

(Naskah ini pernah dikirimkan di Tabloid Nyata dengan tema lomba "Love Story")



Semangkok soto di hadapanku aromanya begitu menggoda. Tetapi ada yang lebih merusak konsentrasi, lelaki pemilik senyum paling indah kini duduk di sampingku. Berdekatan dengannya dengan jarak yang tak lebih dari 30 cm membuat pipiku semakin merona.
“Ayo dimakan, katanya lapar,” ujarnya dengan senyum berbentuk bulan sabit yang membuat perutku mendadak kenyang.
            “Iya sih,” jawabku singkat, tersipu malu, berusaha menyembunyikan perasaan yang tak menentu.
            Kini aku mulai mengaduk-aduk nasi berkuah kuning panas dengan suwiran ayam di atasnya. Bukannya aku tak nafsu makan, namun ada perasaan gundah yang mendera hatiku.
“Ada apa, Sayang?” dia menoleh ke arahku. “Apa kuahnya terlalu panas?” tanyanya lagi.
Aku hanya menggeleng pelan. Menatap wajahnya sekilas, ah... mata sipit itu selalu memesona dan hampir saja aku terlena dibuatnya, aku mengalihkan pandangan lalu menyuapkan satu sendok soto ke mulutku.
            “A... a... aku takut...,” jawabku setelah suapan ke lima. Kini aku tak bisa lagi menyembunyikan perasaanku. Aku benar-benar takut kehilangannya.
            “Tak ada hal yang perlu kau takutkan, aku akan selalu ada di sini menjagamu,” ujarnya seakan bisa membaca kata hatiku, menyebalkan.
            “Justru itu aku takut kau akan meninggalkanku dan tak bisa menikmati soto bersamamu lagi.  Aku takut, Kak.” Nada bicaraku mulai meninggi. Ada serak harapan yang tersirat.
            “Hahaha....” Pria di sampingku kini tertawa. Astaga... aku menjadi semakin jengkel dibuatnya, mengapa dia masih bisa tertawa di kala hatiku mulai meragu akan kesetiaannya.
            Dia diam, lalu berkata. “Aku pasti akan meninggalkanmu,” hatiku tercekat, aku menoleh menatap wajahnya lekat. Semangkok soto kesukaanku pun sudah tak menarik lagi. Bening di mataku mulai meleleh, bermuara pada dagu yang akhirnya luruh satu per satu.
            “Saat aku meninggalkanmu nanti, janganlah kau tangisi aku tapi doakan saja, kau harus tetap hidup. Dunia kita sudah berbeda, tak bisa makan soto bersama lagi, maaf ...,” kalimat itu terlontar melalui bibir tipisnya, senyumnya masih terpancar di sana.
            Aku mencerna kalimatnya. Dunia yang berbeda? Tanyaku dalam hati.
            “Jaga dan besarkan anak-anak kita nanti dengan kasih sayang yang tulus kau beri. Doakan aku dalam setiap ibadahmu, maaf bila aku tak bisa membawamu bersamaku. Aku akan meninggalkanmu, namun bukan untuk saat ini. Entah kapan Allah akan mengambil nyawaku. Aku akan memanfaatkan sisa umur yang tersisa bersamamu.” Kata-kata itu terlontar dengan syahdu dari mulut mungilnya.
Ah... rupanya hanya mautlah yang memisahkan kita. Aku tersenyum menatap priaku, sungguh hatiku beruntung bisa menjadi tempat berlabuh akan segala kasih dan sayangnya. Semangkok soto ini adalah saksi bisu yang akan selalu ku kenang seumur hidupku J
Ranny Setya R, lahir di Surabaya, 08 Desember 1992. Mahasiswi Jurusan Pendidikan Ekonomi Akuntansi di Universitas Negeri Surabaya. Beberapa karyanya pernah dimuat di media cetak Surabaya. Antologinya yang sudah terbit yaitu Warna-Warni Kehidupan ( Hamasah, 2011), Unforgettable Moments (AG Publishing, 2012), Puisi Adalah Hidupku ( LeutikaPrio, 2012 ), Cermin Hati ( Universal Nikko, 2012 ). Penulis dapat dihubungi lewat akun FB: Ranny Setya R atau e-mail: ranny_setya@yahoo.com. Twitter: @Rhanniey

Tidak ada komentar:

Posting Komentar