(Naskah ini pernah dikirimkan di Tabloid Nyata dengan tema lomba "Love Story")
Semangkok
soto di hadapanku aromanya begitu menggoda. Tetapi ada yang lebih merusak
konsentrasi, lelaki pemilik senyum paling indah kini duduk di sampingku.
Berdekatan dengannya dengan jarak yang tak lebih dari 30 cm membuat pipiku
semakin merona.
“Ayo
dimakan, katanya lapar,” ujarnya dengan senyum berbentuk bulan sabit yang membuat
perutku mendadak kenyang.
“Iya sih,” jawabku singkat, tersipu
malu, berusaha menyembunyikan perasaan yang tak menentu.
Kini aku mulai mengaduk-aduk nasi
berkuah kuning panas dengan suwiran ayam di atasnya. Bukannya aku tak nafsu
makan, namun ada perasaan gundah yang mendera hatiku.
“Ada
apa, Sayang?” dia menoleh ke arahku. “Apa kuahnya terlalu panas?” tanyanya
lagi.
Aku
hanya menggeleng pelan. Menatap wajahnya sekilas, ah... mata sipit itu selalu
memesona dan hampir saja aku terlena dibuatnya, aku mengalihkan pandangan lalu
menyuapkan satu sendok soto ke mulutku.
“A... a... aku takut...,” jawabku
setelah suapan ke lima. Kini aku tak bisa lagi menyembunyikan perasaanku. Aku
benar-benar takut kehilangannya.
“Tak ada hal yang perlu kau
takutkan, aku akan selalu ada di sini menjagamu,” ujarnya seakan bisa membaca
kata hatiku, menyebalkan.
“Justru itu aku takut kau akan
meninggalkanku dan tak bisa menikmati soto bersamamu lagi. Aku takut, Kak.” Nada bicaraku mulai meninggi.
Ada serak harapan yang tersirat.
“Hahaha....” Pria di sampingku kini
tertawa. Astaga... aku menjadi semakin jengkel dibuatnya, mengapa dia masih
bisa tertawa di kala hatiku mulai meragu akan kesetiaannya.
Dia diam, lalu berkata. “Aku pasti
akan meninggalkanmu,” hatiku tercekat, aku menoleh menatap wajahnya lekat.
Semangkok soto kesukaanku pun sudah tak menarik lagi. Bening di mataku mulai
meleleh, bermuara pada dagu yang akhirnya luruh satu per satu.
“Saat aku meninggalkanmu nanti,
janganlah kau tangisi aku tapi doakan saja, kau harus tetap hidup. Dunia kita
sudah berbeda, tak bisa makan soto bersama lagi, maaf ...,” kalimat itu
terlontar melalui bibir tipisnya, senyumnya masih terpancar di sana.
Aku mencerna kalimatnya. Dunia yang
berbeda? Tanyaku dalam hati.
“Jaga dan besarkan anak-anak kita
nanti dengan kasih sayang yang tulus kau beri. Doakan aku dalam setiap
ibadahmu, maaf bila aku tak bisa membawamu bersamaku. Aku akan meninggalkanmu,
namun bukan untuk saat ini. Entah kapan Allah akan mengambil nyawaku. Aku akan
memanfaatkan sisa umur yang tersisa bersamamu.” Kata-kata itu terlontar dengan
syahdu dari mulut mungilnya.
Ah...
rupanya hanya mautlah yang memisahkan kita. Aku tersenyum menatap priaku,
sungguh hatiku beruntung bisa menjadi tempat berlabuh akan segala kasih dan sayangnya.
Semangkok soto ini adalah saksi bisu yang akan selalu ku kenang seumur hidupku J
Ranny Setya R, lahir
di Surabaya, 08 Desember 1992. Mahasiswi Jurusan Pendidikan Ekonomi Akuntansi
di Universitas Negeri Surabaya. Beberapa karyanya pernah dimuat di media cetak
Surabaya. Antologinya yang sudah terbit yaitu Warna-Warni Kehidupan ( Hamasah, 2011), Unforgettable Moments (AG Publishing, 2012), Puisi Adalah
Hidupku ( LeutikaPrio, 2012 ), Cermin
Hati ( Universal Nikko, 2012 ). Penulis
dapat dihubungi lewat akun FB: Ranny Setya R atau e-mail: ranny_setya@yahoo.com. Twitter: @Rhanniey
Tidak ada komentar:
Posting Komentar