Hidup adalah Ibadah

lihat, pahami, resapi, tulis...

Sabtu, 12 Februari 2011

IBU


Ku lihat jam dinding telah menunjukkan pukul 02.45, entah mengapa aku tidak bisa memejamkan mataku. Aku tidak bisa tidur. Berbagai kenangan dalam kehidupanku selama 27 tahun ini mulai berkelebat memasuki pikiranku, memori – memori lama mulai muncul kembali. Manis dan pahit terasa semuanya. Aku terdiam lama. ” Ibu....” aku menyebut nama itu tanpa kusadari. Aku merindukan ibuku. Sudah lama aku tidak bertemu dengan beliau.
                                                            ***
Ibuku adalah sosok yang sangat berarti dalam hidupku. Kesabaran, kelembutan, dan kasih sayang yang ia miliki tidak akan bisa terganti dengan apa yang telah kuberi. Menghidupi kelima anak sendirian tanpa sosok seorang ayah menjadikannya terlihat lebih tegar. Yah... sejak lahir, aku merasa tidak pernah memiliki ayah...walaupun sebenarnya dia ada
Awal remaja ibuku yang saat itu SMP kelas dua terkenal sangat cantik dengan memilik kulit putih halus membuat banyak lelaki yang tergoda untuk memiliki termasuk ayahku. Mendengar cerita ibu sebenarnya dia telah menyukai seseorang dalam hidupnya yaitu seorang pemuda keturunan india yang berada didepan rumah, karena ibu sering memergoki dia sering memperhatikan ibuku. Sebenarnya ibu juga tertarik tapi hal itu tidak dianggap penting karena beliau memilik cita-cita tinggi untuk menapaki pendidikan setinggi mungkin agar dia dapat bermanfaat bagi masyarakat.
Hadirnya ayahku dikehidupan ibu mengubur semua cita-citanya.Datang melamar dengan pakaian tentara angkatan laut membuat kakekku tertarik.Satu dan dua kali ayahku melamar selalu ditolak ibuku karena beliau ingin sekolah dan mendapat pendidikan tinggi. Tapi desakkan kakekku yang beranggapan wanita tidak lebih sebagai istri dan gak perlu menempuh pendidikan tinggi memaksa ibu untuk menerima dia sebagai suaminya dengan jaminan ibu dapat terus melanjutkan pendidikannya.
Ibuku memiliki suami seolah memilih kucing dalam karung, karena menikah tanpa cinta dan terpaksa. Awalnya ibuku ikhlas dengan desakkan kakek menikah dengan dia dengan harapan masih bisa tetap sekolah.Tapi dengan berjalannya hari dimana ayahku selalu datang dengan membawa teman-temannya kerumah selalu membuat ibuku terlambat sekolah. Ibuku selalu sedih bila dia melihat teman-temannya datang menjemput untuk berangkat sekolah bersama-sama tapi tidak bisa karena dia sudah mempunyai suami.
Yang kuketahui saat aku lihat foto kakakku yang pertama yaitu Irmayani di ulang tahunnya yang pertama terlihat ibu dan ayahku orang yang bahagia.Sangat beruntung kakakku Irmayani karena hanya dia yang mengalami kebahagiaan dibanding adik-adiknya tidak pernah mengalami perayaan ultah seperti dia. Berjalan waktu mulai terdengan rumor bahwa ayahku memiliki istri kedua di saat kakakku yang kedua Noviani lahir. Saat itu memang suasana keluargaku kurang harmonis, tapi ibu tidak mempercayai isu itu sebelum dia melihat sendiri dan meyakini bahwa suaminya adalah suami yang setia dan sangat mencintai dia dan anak – anaknya.
Tapi lama kelamaan ibu terasa panas telinganya dimana banyak laporan dari para tetangga bahwa ayahku punya istri muda yang saat ini juga telah  memiliki 2 anak.Ketika kakak ke empat berusia 1 tahun ibupun merasa curiga dengan alasan berlayar ke luar negeri yang membutuhkan meninggalkan keluarga berbulan-bulan, akhirnya ibu membuntuti ayahku pergi dengan alasan akan tugas berlayar keluar negeri selama 2 bulan. Dimana pada kenyataan bukan pangkalan angkatan laut yang dituju ayah melainkan rumah mewah di kawasan Kenjeran surabaya. Ibu meyakini setelah melihat dengan mata kepala sendiri di rumah itu ada wanita cina dengan 2 anak 1 perempuan dan 1 laki-laki yang gak lain adalah istri kedua ayahku.Yang baru kuketahui dari informasi sahabat ayah yang telah tobat, bahwa istri mudanya dulu berprofesi sebagai pelacur.
Hati ibu hancur merasa telah dikhianati sekian lama, maka dengan keempat anaknya ibu meninggalkan surabaya menuju sumbawa dimana kakek dan nenekku tinggal dengan harapan ayahku akan sadar dan kembali pada keluarganya. Saat itu ibu sudah tiga bulan tidak mengalami datang bulan, beliau pikir karena stres dengan banyaknya rumor dari orang-orang bahwa suaminya selingkuh yang ternyata beliau sedang mengandung diriku. Sehingga hanya aku yang terlahir di Sumbawa Besar. Penderitaan Ibu semakin berat dengan berjuang hidup untuk kelima anaknya, dimana beliau numpang hidup pada kakek dan nenek.
                                                               ***
Saat aku berusia 6 tahun, Ibu memutuskan untuk kembali ke Surabaya. Dengan rumah dari papan dan kayu yang berukuran kira2 4x4 m2 kami berenam tinggal bersama.Sisi kanan rumah adalah tempat pembuangan sampah dan belakang sawah serta sungai tempat BAB dimana bila musim hujan datang maka pasti rumah kami akan kebanjiran air dari sungai. Kondisi saat itu sangat memprihatinkan, yang kutahu ibu berjuang keras mencari kerja dari pagi hingga malam hari. Sering selesai kami mengaji habis isya’ aku selalu bertanya - tanya bila ibu tidak ada. Pernah aku mencoba mengikuti beliau yang ternyata beliau menjadi penjahit di rumah produksi di daerah Gunungsari dengan upah Rp. 1000,- per hari dari pagi hingga jam 10 malam. Beliau hanya punya keahlian menjahit dengan upah yang minim.
Kami hidup serba kekurangan dan kelaparan, nasi yang kami makan adalah beras jatah prajurit yang tiap bulannya selalu ibu ambil dimana aku selalu ikut dengannya. Beras jatah dimana bila sudah masak harus cepat2 dimakan karena bila dingin akan menjadi keras.Lauknya juga memprihatinkan, yang aku ingat tahu atau tempe beberapa potong selalu direbus karena memang tidak memiliki minyak, atau kerupuk dan kadang pakai sambal serta sisa minyak jelantah. Untung aku diberi ayam oleh lek minto dimana ayamku kalau bertelor selalu banyak, kalau ada telor satu dicampur tepung sama ibu supaya terlihat besar dan banyak lalu dibagi enam potong buat lauk kami saat itu Selain beternak aku juga menanam sayuran kankung di sawah belakang rumah, dimana aku pernah marah2 saat tahu sayur yang aku tanam dicuri oleh seseorang, yang ternyata dijual dipasar.
Memang tiap awal bulan ayah selalu datang dengan memberi uang sedikit yang hanya cukup untuk kami hidup 1 minggu serta bahan - bahan makanan seperti susu,gula,dll yang ternyata semua itu barang curian kapal,karena dia di bagian perbekalan prajurit jadi leluasa mengambil milik kapal. Dengan perasaan tidak bersalah menelantarkan kami pernah dia berkomentar tentang rumah kontrakan kami ” Ini rumah atau kandang sapi???” kurang ajar sudah tidak memberi rumah malah menghina.
Sebenarnya dulu aku bangga setiap dia datang, karena aku bisa menunjukkan pada anak – anak kampung bahwa aku dan kakak2ku punya ayah yang sah, karena kami selalu mendapat ejekkan dan olokkan teman2 bahwa kami ini adalah anak haram, anak yang bapaknya gak jelas
Aku merasa ada yang hilang dalam masa kanak - kanakku, ya aku baru sadar bahwa aku benar - benar tidak memliki seorang ayah dalam hidupku. Sering aku tanyakan pada diriku dimana ayahku saat ini ?. Dulu setiap dia datang di awal bulan aku sangat senang sekali, tugasku pasti adalah membelikan minuman botol temulawak yang rasa coffe cream. Selain itu aku juga selalu dapat uang Rp. 1.000,- ibu selalu menyarankan untuk ditabung dan bahkan ibu juga membelikan aku celengan ayam dari tanah liat, yang nantinya kalau aku ingin membeli sesuatu bisa diambil dari celengan itu. Berbulan-bulan aku menabung di celengan bukannya bertambah berat melainkan bertambah ringan. Dulu aku selalu bertanya2 apa yg salah pada celenganku. Setelah aku timang2 dan bolak balik,  aku kaget ternyata sudah ada lobang di bawah celengan dengan di tambal lem kertas. Aku marah dan gak terima ternyata ibuku telah mengambil uangku dengan alasan butuh untuk makan kami, tetap aku gak mau terima dan minta ganti ke ibu karena itu uangku. Tapi semua gak tergantikan, aku menangis dan aku pecah celengan itu yang ternyata isinya gak sampai seribu rupiah. Tetapi aku sadar, bahwa Ibuku pun pasti terpaksa melakukan hal itu, karena kehidupan kami yang serba kekurangan.
                                                                        ***
            Setelah 20 tahun berlalu, kehidupan kami telah berubah. 2 kakak perempuanku mempunyai suami yang baik dan setia. 2 kakak laki – lakiku pun juga telah menjadi orang yang sukses karena usaha dan doa tulus dari ibuku. Aku pun sudah lulus kuliah dan sudah diterima kerja. Aku bersyukur karena dengan kepintaran yang aku miliki, aku bisa mendapatkan beasiswa untuk menuntut ilmu hingga perguruan tinggi. Aku senang sekali, karena aku bisa diterima bekerja di salah satu Bank ternama di Indonesia. Tetapi aku ditempatkan di Blitar. Dengan berat hati aku pergi ke Blitar, aku pergi meninggalkan Ibuku yang tinggal bersama kakak perempuanku dan keluarganya.
Sejak aku bekerja, kesehatan ibuku sudah melai drop dan sering sakit-sakitan, aku selalu pulang  ke Surabaya setiap minggu pada jumat malam dan kembali minggu malam. Hal pertama yang kulakukan adalah menjenguk ibuku di kamar dan mencium tangan serta mengecek kesehatannya. Sering kali dia mengeluh sakit pada punggungnya dan sering pula aku membantu beliau menempelkan koyo di punggungnya rata-rata 6 koyo panas. Pada tahun 2008 kurang lebih 1,5 tahun aku bekerja dan sekitar bulan april aku berencana bersama Mas Ilham, kakak iparku,  mewujudkan impianku untuk makan bersama satu keluarga dirumah makan yang jelas untuk kebersamaan dan kebahagiakan ibuku karena kami sama sekali tidak pernah makan di restaurant atau rumah makan. Rencanaku adalah bulan juni karena aku akan dapat bonus sebesar 650 ribu didukung Mas Ilham yang akan menggenapi bila uangku tidak cukup.
Namun sejak bulan Maret keadaan ibuku sudah sangat memburuk,  ibuku di vonis terkena kanker payudara. Ibuku di rawat inap di salah satu rumah sakit di Surabaya, aku cuti kerja, dan memutuskan untuk merawat ibuku.
. Di hari jumat pagi aku mengantarkan ibu untuk foto rontgen, pilu rasanya mendorong kereta dimana ibuku terbaring lemah, sambil menunggu giliran ibu sering meminta minum. Awalnya masih bisa ibu minum lewat sedotan namun kelamaan harus disuapi lewat sendok teh dan terakhir aku harus memasukkan air lewat sedotan. Saat selesai foto rontgen aku antar kembali ibu ke ruang opname dan beberapa saat aku keluar karena saat itu pula ayah datang untuk menjenguk ibu. Beberapa waktu kemudian aku masuk kembali ke ruang ibu saat ayah sudah keluar dari ruang itu, dan aku terkejut sekali mendapati ibu sedang menangis tersedu-sedu, aku bertanya “ Kenapa ibu menangis, apa yang sudah dia perbuat ke ibu ?” beliau bilang “ Tadi ibu sudah berupaya meminta maaf kepada ayahmu karena ibu belum bisa menjadi istri yang baik buat dia, tapi dia malah memarahi ibu dan menumpahkan semua kesalahan kepada ibu”. Saat itu emosiku sudah naik dan aku bilang “ Kenapa ibu harus minta maaf ke dia? ibu nggak salah, seharusnya dia yang minta maaf ke ibu, akan ku hajar dia !!!“ sambil akan bergegas mencari dia, tapi langkahku terhenti karena tangan ibu menghalangi “ Jangan !!!“ kata ibu “ Jangan nak, jangan kamu balas, bagaimanapun dia ayahmu, biar Allah yang membalasnya!”.
Menjelang magrib habis sholat ashar ibu bertanya padaku “ Nak ,siapa dua orang yang berdiri dipojok kamar itu ? ” aku menoleh dipojok kamar Tidak ada siap-siapa bu…. “ . “ Iya itu ada 2 orang berdiri dipojok kamar itu sejak 2 hari yang lalu hatiku teriris dengan perkataan ibu karena aku yakin itu malaikat pencabut nyawa yang datang. Aku langsung mengaji Yasin untuk kesembuhan ibuku.
Lalu ibu tertidur lagi dan menjelang isya’ beliau terbangun dan minta minum karena haus sekali, aku mengambil sedotan dan memasukkan air ke mulut ibu dengan menutup ujung sedotan yang berisi sedikit air dan melepasnya ketika sudah masuk ke mulut, tapi air dari sedotan tersebut tumpah dan tidak masuk ke tenggorokan ibu, ibu menangis haus sekali dan memarahi aku karena air tidak masuk ke tenggorokannya, aku pun meneteskan air mata melihat kondisi ibuku.
Sesaat beliau memberiku isyarat untuk mendekatkan telingaku pada mulutnya lalu dengan suara yang pelan, “ Kenapa langit ada pintunya, dan kenapa ada keretanya?” tapi yang aku lihat hanya enternit langit2 atap rumah sakit, akupun menangis. Lalu beliau mendekap kepalaku dan bilang “ Nak waktu ibu sudah tidak lama lagi, tolong ikhlaskan ibu pergi ya….” tangisku semakin menjadi, lanjutnya “ Ibu ingin kamu berjanji pada ibu, segeralah mencari calon istri agar kamu ada yang mengurus dan bila sudah menemukan kamu harus berjanji untuk mencintai istri dan anak2mu kelak, melindungi, menafkahi dengan rejeki yang barokah, sayangi istri sayangi anak2, dan jadilah kepala keluarga yang bertanggung jawab, buktikan…buktikan pada ayahmu bahwa kamu tidak seperti dia, bahwa kamu bisa bertanggung jawab kepada keluarga. Jaga sholatmu dan rukun dengan saudara dan saling membantu, bantulah saudaramu sebelum mereka meminta bantuan, jangan kamu lupakan budi orang yang telah membantu kita dan jagalah silaturahmi dengan teman - teman ibu. Sekarang kamu panggil kakak - kakakmu ibu ingin semua kumpul disini, ibu ingin melihat kalian ada disini, panggil mereka” Dengan menangis dalam hati aku bilang “ aku ikhlas Ya Allah bila ibuku harus kau ambil karena aku tidak tega dengan kondisi ibu yang sedemikiaan ini. Dan saat itu juga aku telepon semua kakak2ku untuk datang karena ibu ingin bertemu.
Selasa pagi, aku harus ikhlas menerima ini. Ibuku telah tiada. Aku tidak menangis , hanya dua tetes air mataku mengalir dipipi, lalu aku mencium kening beliau untuk terakhir kali dan memohon ampun dosa2 beliau agar diterima disisi Allah SWT. Amin……..
                                                            ***
Memori lama itu seperti film yang berputar di pikiranku. Air mataku jatuh menyusuri kedua pipi. Jika saja aku dapat bertemu ibu kembali disini, banyak hal yang ingin kulakukan. Aku ingin memeluknya, mencium tangannya , mengusap rambutnya, dan berbisik lirih di telinganya, “ Terima kasih Ibu….aku menyayangimu….” Jika saja…