Oleh Ranny Setya R
Kuda besiku melaju berlawanan dengan arah angin, satu per satu rintik air luruh dari langit. Aku melirik jam tanganku, pukul 5 sore. Padahal jadwal keberangkatan kurang satu setengah jam lagi. Beberapa pengemudi di depanku mulai merapatkan kuda besinya, mengeluarkan jas hujan dari saku sang kuda dan memakainya. Lagi-lagi aku lupa membawa jas hujan, maka kubiarkan dingin menyentuhku, mengibarkan ujung jilbab biruku yang mulai basah oleh hujan.
Sampai mana? Mas tunggu di peron stasiun. Hati-hati di jalan ya, Dek.
Aku membaca pesan singkatnya, lalu kembali konsentrasi memacu kudaku lebih cepat lagi. Senja sudah di ambang mata, langit semakin gelap, aku takut bila terlambat menemuinya. Sedangkan beberapa barang yang dibutuhkannya ada di tasku saat ini. Ya Allah... permudahkanlah jalanku, jangan biarkan waktu membuat hadirku sia-sia. Yah...,hanya doa-lah yang bisa kupanjatkan di tengah perjalanan berkawan rintik hujan dan riuh angin.
Rupanya Allah mendengar doaku, jalan-jalan mulai lenggang, bahkan aku tak mendapati lampu merah sekalipun, lampu hijau selalu membiarkan aku lewat di bawahnya. Padahal senja selalu identik dengan macet, terutama di kota metropolitan se-sumpek Surabaya. Alhamdulillah Ya Allah, tak lama kemudian aku pun sudah sampai di depan gerbang stasiun.
“Parkir motor di sebelah mana ya, Pak?” aku bertanya pada pria paruh baya yang duduk di atas becaknya.
“Ini masuk aja, Mbak.” Jawabnya singkat, sembari mengarahkan telunjuknya pada pagar putih sebatas pinggang.
“Oh sebelah sana, ya? Makasih ya, Pak.”
Segera saja ku bariskan kuda besiku di tempat yang teduh, kemudian berlari menemuinya. Berharap dia masih di sana, dan kereta sembrani belum membawanya. Dia, priaku. :)
Kuda besiku melaju berlawanan dengan arah angin, satu per satu rintik air luruh dari langit. Aku melirik jam tanganku, pukul 5 sore. Padahal jadwal keberangkatan kurang satu setengah jam lagi. Beberapa pengemudi di depanku mulai merapatkan kuda besinya, mengeluarkan jas hujan dari saku sang kuda dan memakainya. Lagi-lagi aku lupa membawa jas hujan, maka kubiarkan dingin menyentuhku, mengibarkan ujung jilbab biruku yang mulai basah oleh hujan.
Sampai mana? Mas tunggu di peron stasiun. Hati-hati di jalan ya, Dek.
Aku membaca pesan singkatnya, lalu kembali konsentrasi memacu kudaku lebih cepat lagi. Senja sudah di ambang mata, langit semakin gelap, aku takut bila terlambat menemuinya. Sedangkan beberapa barang yang dibutuhkannya ada di tasku saat ini. Ya Allah... permudahkanlah jalanku, jangan biarkan waktu membuat hadirku sia-sia. Yah...,hanya doa-lah yang bisa kupanjatkan di tengah perjalanan berkawan rintik hujan dan riuh angin.
Rupanya Allah mendengar doaku, jalan-jalan mulai lenggang, bahkan aku tak mendapati lampu merah sekalipun, lampu hijau selalu membiarkan aku lewat di bawahnya. Padahal senja selalu identik dengan macet, terutama di kota metropolitan se-sumpek Surabaya. Alhamdulillah Ya Allah, tak lama kemudian aku pun sudah sampai di depan gerbang stasiun.
“Parkir motor di sebelah mana ya, Pak?” aku bertanya pada pria paruh baya yang duduk di atas becaknya.
“Ini masuk aja, Mbak.” Jawabnya singkat, sembari mengarahkan telunjuknya pada pagar putih sebatas pinggang.
“Oh sebelah sana, ya? Makasih ya, Pak.”
Segera saja ku bariskan kuda besiku di tempat yang teduh, kemudian berlari menemuinya. Berharap dia masih di sana, dan kereta sembrani belum membawanya. Dia, priaku. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar